Arsini Sholihah

Dan DIA Bersamamu Dimanapun Kamu Berada, Dan Alloh Maha Melihat Apapun Yang Kamu Kerjakan (QS.57:4)

Cinta, Nikah, Dan Keluarga

Comment( 0)

Posted 27 April 2012

 



by: Ustad Cahyadi takariawan

Tulisan ini saya buat untuk menjadi bahan bacaan awal, bagi para sahabat di Kuala Lumpur yang akan mengikuti acara Talkshow “Yuk Bicara Cinta” di Aula Hasanuddin KBRI Kuala Lumpur, 1 Mei 2012. Sebenarnya isi tulisan ini sudah terpublikasikan di Kompasiana dan di blog wonderful-family, namun dalam bentuk terpisah. Ini saya posting dalam bentuk “semacam” makalah, agar saat saya hadir nanti sudah lebih banyak bahan bisa didiskusikan secara langsung.

 

13354990712007721042

keluarga

Benarkah pernikahan dan keluarga selalu bermula dari cinta ? Harian Taiwan, Nanyang Siang Pau, Kamis (08/03/2012) memberitakan, seorang wanita bernama Wang Xing Nvzai (27 tahun), mencatatkan pernikahannya dengan pemuda lajang Lee (23 tahun), di kantor catatan sipil di Distrik Tanzi, Taiwan. Setelah pernikahan disahkan pihak berwenang, Wang mengajak suaminya ke sebuah showroom mobil. Wang meminta Lee membelikan mobil untuknya. Namun reaksi Lee membuat kecewa Wang.

Lee menyatakan akan mempertimbangkan permintaan Wang. Mendengar kata-kata suaminya itu, Wang pun kesal. “Ceraikan saya jika kamu tidak mau membelikan mobil!” ungkap Wang kepada Lee dengan ketus dan marah.

Mendengar ucapan istrinya, Lee pun emosi. Mereka berdua kemudian kembali ke kantor catatan sipil yang baru saja mereka tinggalkan sekitar satu jam yang lalu. Pasangan Wang dan Lee mendaftarkan perceraian mereka. Peristiwa itu terjadi pada 6 Maret 2012 sempat menjadi bahan pembicaraan warga Taichung City, tempat tinggal pasangan tersebut. Bahkan pihak kantor catatan sipil di Tanzi menyebut ini sebagai pernikahan sah yang paling singkat di Taiwan.

Kita juga sering mendengar maraknya perceraian di lingkungan artis dan selebritis. Pedangdut Cici Paramida menikah dengan Suhaebi (alm), usia pernikahannya hanya 5 bulan. Artis Kristina dinikahi Al Amin Nasution, tapi enam bulan setelah mengarungi kehidupan pernikahan, Kristina melayangkan gugatan cerai. Demikian pula kisah artis Desy Ratnasari yang menikah dengan Trenady Pramudya, dan bercerai satu tahun setelahnya. Dewi Persik menikah dengan Aldi Taher hanya bertahan kurang lebih 1 tahun.

Sebelum menikah mereka bilang cinta. Setelah menikah ternyata tidak bertahan lama. Ada apa dengan cinta, ada apa dengan mereka?

Nikah Tidak Cukup Dengan Kata Cinta

Ternyata, tidak cukup dengan kata cinta. Pada contoh-contoh di atas, tampak ada kerapuhan dalam pondasi pernikahan. Pondasi yang mereka bangun untuk menciptakan keluarga tidak cukup kokoh, sehingga membuat kehidupan rumah tangga cepat goyah dan akhirnya roboh. Pernikahan yang tidak dilandasi niatan suci untuk beribadah, untuk menunaikan amanah Ketuhanan dan melaksanakan kewajiban kemanusiaan serta peradaban. Pernikahan yang semata-mata dilakukan “karena ingin”, karena mau, karena senang, karena syahwat….

Yang paling ekstrem adalah kisah pernikahan Wang dan Lee di Taiwan. Mereka menikah hanya satu jam, dan belum sempat melakukan “apa-apa” sebagai suami isteri. Karena seusai menikah di kantor catatan sipil, Wang segera mengajak Lee ke showroom mobil dan minta agar Lee membelikan mobil untuknya. Tidak dinyana, Lee memberikan jawaban yang mengecewakan Wang, maka segera Wang melontarkan kekesalan hatinya, yang akhirnya berujung ke perceraian.

Mengapa mereka menikah, jika hanya untuk bercerai satu jam setelahnya ? Padahal mereka mengobral kata cinta setiap detiknya…..

Penjelasan yang lebih bertanggung jawab adalah melihat dari pondasi pernikahan mereka. Jika pernikahan dilandasi dengan pondasi yang kokoh, pastilah akan membuat rumah tangga yang terbentuk bertahan dan awet. Tidak akan mudah goyah oleh terpaan angin dan badai, tidak akan mudah karam oleh dahsyatnya gelombang. Keluarga akan mampu mengarungi samudera raya kehidupan yang penuh godaan, rintangan, gangguan, dan tantangan.

Maka ketika memasuki gerbang pernikahan, pondasi yang harus dibangun adalah kesadaran ibadah. Motivasi untuk menunaikan amanah Ketuhanan, niat suci untuk melaksanakan tuntunan Kanjeng Nabi, kehendak kuat untuk membangun peradaban kemanusiaan yang berwibawa dan bermartabat. Tanpa motivasi yang kuat seperti itu, akan memudahkan keluarga terhempas di tengah badai dan gelombang. Mudah diterpa masalah dan tidak mampu bangkit setelah terjatuh.

Bagi yang sudah terlanjur membentuk keluarga tanpa motivasi ibadah yang kuat, tidak ada hal yang terlambat. Anda bisa memulai dari titik nol, yaitu membangun kesadaran ibadah itu sekarang. Karena awal itu penting, namun lebih penting lagi menjaga selama prosesnya. Maka penting untuk menanam motivasi sejak awal, yang lebih penting lagi adalah menjaga kebaikan dalam kehidupan keseharian. Maka, mulailah dari titik nol, dari sekarang. Bismillah.

Cinta Menghajatkan Kepastian dan Tanggung jawab

Allah menciptakan manusia, pada saat yang sama memberikan perasaan, kecenderungan, dan ketertarikan terhadap keindahan. Rasa kecenderungan dan ketertarikan ini adalah sesuatu yang bersifat fitrah dan alamiah. Allah menggambarkan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang” (Ali Imran: 14).

Di antara fitrah manusia adalah memiliki ketertarikan terhadap pasangan jenisnya. Pada sisi yang lain, Allah telah memberikan tuntunan pernikahan sebagai jalan resmi untuk menyalurkan fitrah ketertarikan terhadap pasangan jenis tersebut. Di sinilah kebesaran dan kasih Allah ditampakkan secara nyata kepada kita, dengan menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa banyak manusia mengekspresikan rasa cinta dan ketertarikan terhadap pasangan hidup dengan memenuhi semua keinginan nafsu syahwat mereka. Bermula dari rasa ketertarikan, menguat menjadi cinta, ternyata berlanjut dan berakhir dengan petaka. Ini adalah cinta yang dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, yang akhirnya menghancurkan makna cinta itu sendiri. Bukan kebaikan yang didapatkan, namun justru kerusakan yang menjadi hasilnya.

Tidak cukup dengan obral janji, tebar pesona, dan  kata cinta. Yang diperlukan adalah kepastian dan tanggung jawab. Akad nikah adalah sebentuk kepastian dan tanggung jawab. Akad nikah adalah tanda cinta. Setelah hidup berumah tangga, masing-masing menunaikan peran, melaksanakan kewajiban, memberikan yang terbaik untuk pasangan, menjauhi segala yang tidak membahagiakan pasangan. Itulah kepastian cinta dan tanggung jawab yang nyata. Bukan hanya janji, bukan hanya mengumbar kata cinta. Tunjukkan cintamu dengan kepastian dan tanggung jawab !

Keluarga Penuh Cinta

Setiap kali kita berbicara tentang cinta dalam keluarga, selalu mengkaitkan dengan istilah sakinah, mawadah, wa rahmah. Tiga kata yang acap diringkas dengan sebutan Keluarga Sakinah. Sebagaimana diketahui, kata sakinah, mawadah dan rahmah itu diambil dari firman Tuhan:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya.

Biasanya mawaddah muncul pada pasangan muda atau pasangan yang baru menikah, dimana corak fisik masih sangat kuat. Alasan-alasan fisik masih sangat dominan pada pasangan yang baru menikah. Kontak fisik juga sangat kuat mewarnai pasangan muda. Misalnya ketika seorang lelaki ditanya, “Mengapa anda menikah dengan perempuan itu, bukan dengan yang lainnya?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia cantik, seksi, kulitnya bersih”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah mawaddah.

Demikian pula ketika seorang perempuan ditanya, “Mengapa anda menikah dengan lelaki itu, bukan dengan yang lainnya ?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia tampan, macho, kaya”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah yang disebut mawaddah.

Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai, tanpa pamrih “sebab”. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.

Biasanya rahmah muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga, dimana tautan hati dan perasaan sudah sangat kuat, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima, saling memahami. Corak fisik sudah tidak dominan.

Misalnya seorang kakek yang berusia 80 tahun hidup rukun, tenang dan harmonis dengan isterinya yang berusia 75 tahun. Ketika ditanya, “Mengapa kakek masih mencintai nenek pada umur setua ini?” Tidak mungkin dijawab dengan, “Karena nenekmu cantik, seksi, genit”, dan seterusnya, karena si nenek sudah ompong dan kulitnya berkeriput.

Demikian pula ketika nenek ditanya, “Mengapa nenek masih mencintai kakek pada umur setua ini?” Tidak akan dijawab dengan, “Karena kakekmu cakep, jantan, macho, perkasa”, dan lain sebagainya; karena si kakek sudah udzur dan sering sakit-sakitan. Rasa cinta dan kasih sayang antara kakek dan nenek itu bahkan sudah berada di luar batas-batas sebab. Mereka tidak bisa menjelaskan lagi “mengapa dan sebab apa” masih saling mencintai.

Keluarga sakinah memiliki suasana yang damai, tenang, tenteram, aman, nyaman, sejuk, penuh cinta, kasih dan sayang. Keluarga yang saling menerima, saling memberi, saling memahami, saling membutuhkan. Keluarga yang saling menasihati, saling menjaga, saling melindungi, saling berbaik sangka. Keluarga yang saling memaafkan, saling mengalah, saling menguatkan dalam kebaikan, saling mencintai, saling merindukan, saling mengasihi. Keluarga yang diliputi oleh suasana jiwa penuh kesyukuran, terjauhkan dari penyelewengan dan kerusakan.

Semoga kita semua mendapatkan dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Keluarga yang dipenuhi cinta.

 

bismillah....semoga bisa segera menggenapkan dien dengan niat lillahi ta'ala dan mengikuti sunnah rasul-Nya

Posted in Jelajah Hati



Meningkatkan Daya Konsentrasi Siswa

Comment( 0)

Posted 12 April 2012

 

REPUBLIKA.CO.ID, Belajar di kelas merupakan proses yang kompleks. Anak mesti memperhatikan guru secara penuh dan berkonsentrasi terhadap materi yang di ajarkan. Namun, kenyataannya, itulah yang paling sering lenyap ketika mereka duduk di bangku kelas.

Terdengar akrab dengan polah ananda? Cobalah melibatkan anak ke dalam aktivitas fisik. Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti asal Italia memantau keterkaitan antara kedua hal tersebut.

Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti memantau hasil tes uji ketajaman otak 138 anak berusia delapan hingga 11 tahun pada sejumlah kondisi. Beberapa di antaranya melibatkan aktivitas fisik dan tanpa kegiatan olah fisik.

“Para guru sering kali mengeluhkan siswanya kehilangan perhatian dan konsentrasi dalam meng ikuti instruksi akademik setelah bebe rapa saat belajar,” kata first study author Maria Chiara Gallotta dari University of Rome, Italia, seperti dikutip HealthDay News.

Kunci keberhasilan proses belajar, lanjut Gallotta, ada pada atensi dan konsentrasi. Terutama, pada masa perkembangan anak. “Aktivitas fisik menyumbang 10 poin peningkatan daya konsentrasi anak, sedangkan tes mental terkait ujian akademik sebelum ujian sesungguhnya menambah daya konsentrasi 13 persen.”

Pengamatan dilakukan selama tiga pekan. Anak-anak dijadwalkan untuk mengikuti tiga sesi ujian yang masing-masing harus dituntaskan dalam 50 menit. Sebelum menjawab soal pertama, mereka terlebih dulu melakukan sebentuk aktivitas fisik. Lalu, pada tes kedua, mereka hanya perlu mengerjakan soal akademik. Pada tes ketiga, mereka berpartisipasi dalam kegiatan fisik dan akademik.

Seluruh tes tersebut dirancang sebagai instrumen untuk memantau kemahiran mempertahankan konsentrasi sekaligus kualitas jawaban responden ciliknya. Hasilnya, anak-anak menunjukkan kinerja terbaiknya menyusul aktivitas fisik ataupun aktivitas akademik.

“Namun, mereka merosot kemampuannya ketika tes digabung,” tutur Gallotta yang penelitiannya dimuat pada edisi Maret Medicine & Science in Sports & Exercise.

 

Posted in kisah dan hikmah

Mendidik Dengan Hati Dan Pujian

Comment( 0)

Posted 11 April 2012


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.



Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.



Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.



Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”



“Dari Indonesia,” jawab saya.



Dia pun tersenyum.



BUDAYA MENGHUKUM



Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.



“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.



“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.



Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.



Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.



Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.



Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.



Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.



Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.



***



Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.



Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.



Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.



Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.



Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.



Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”



Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.



Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.



MELAHIRKAN KEHEBATAN



Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut ? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman : gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.



Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman : Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.



Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.



Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.



Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.



Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.


Ditulis oleh : Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)....copi dari akun FB teman

Posted in kisah dan hikmah

Sebaris Untaian Kata Untukmu Wahai Para WANITA SUCI

Comment( 0)

Posted 06 Februari 2012

WANITA SUCI

 

Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?

Karena toh kau tak mengenalku dan memang kau tak perlu mengenalku.

Bagiku kau adalah bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah

sekalipun.

Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.

Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan

persamaan.

 

Wanita suci,

Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena itu akan membuatku terus

mengingatmu.

Berarti memenuhi kepalaku dengan menginginkanmu.

Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.

Membuatku menginginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.

Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh

Lumpur.

Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

 

Wanita suci,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.

Ada ingin tapi tak ada henti.

Menyentuhmu merupakan keinginan diri, berkelebat selalu, meski ujung

penutupmu pun tak berani kusentuh.

Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu

kau pertaruhkan.

Mungkin kau tak peduli

Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.

Dan tak lebih dari wanita biasa.

 

Wanita suci,

Jangan pernah kautatapku penuh

Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.

Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih

kotor.

Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan

pakaian sutra emas.

Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.

Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.

Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

 

Wanita suci,

Beri sepenuh dirimu pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati

membawamu kehadapan Tuhanmu.

Untuknya dirimu ada, itu kata pikiranku, terukir dalam kitab suci, tak

perlu dipikir lagi.

Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad

yang indah.

Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti

dicontohkan ibunda Khadijah.

Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

 

Wanita suci,

Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.

Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau

nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.

Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat

ini.

Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun

dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu. di surga-NYA

 

Wanita suci

Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.

Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.

Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan

pada jalan yang kaupilih,

seperti kisah seorang wanita suci masa lalu yang meminta ke-Islam-an

sebagai mahar pernikahannya.

Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan

Sang Kekasih Tertinggi.

Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta

dalam setiap denyut nadi kita.

 

Teruslah kau jaga kesucian dirimu wahai para wanita suci... ^-^

bercita-citalah menjadi bidadari dunia... ^-^

 

Posted in Jelajah Hati

KHUSNUL KHOTIMAH

Comment( 1)

Posted 10 Januari 2012

Yang khas dari sholat lima waktu di masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram adalah hampir selalu diikuti oleh sholat jenazah. Di masjid Nabawi jenazah tidak terlalu banyak. Muadzin mengumumkan kadang perempuan 1, 2 atau dengan anak-anak. Kadang laki-laki 1, 2 dst. Jadi kita membaca doa bisa disesuaikan untuk siapa.  Namun jika di Masjidil Harom, hanya diumumkan  :  “Assholaatu ‘ala amwati rahimakimullah...” karena jenazahnya selalu, hampir selalu banyak.
Biasanya ada jeda waktu antar sholat jenazah dengan sholat wajib, sekitar 5 menit. Menurut ustadz, jeda waktu itu bukan untuk memberi kita waktu sholat rawatib. Karena saya banyak melihat jamaah yang tergesa-gesa sholat rawatib, khawatir nanti ketinggalan sholat jenazah.
Masih menurut ustadz, sholat jenazah tidaklah menghalangi kita dari mengerjakan sholat rawatib. Jadi jeda waktu tadi adalah karena imam sholat berpindah posisi dari depan pintu Ka’bah, beralih ke belakang jenazah. Sementara posisi jenazah ada di lantai 2, di arah  belakang Maqom Ibrahim. Jenazah diletakkan di ruangan khusus, yang berjendela tertutup kaca.  Anda dapat melihat lokasinya karenasaatu-satunya bagian lantai 2 yang berjendela. Yang lainnya hanya berpagar biasa.

Hotel tempat kami menginap di Mekkah bersebelahan dengan RS, jadi jika beruntung dapat menyaksikan jenazah yang dibawa dari RS ke masjid, atau dari masjid ke ambulan. Sekalian bisa dzikrul maut. Karena Rasulullah pernah bersabda yang artinya...cukuplah mati sebagai peringatan.
Dengan menyaksikan dan menyolatkan jenazah, kita akan ingat bahwa nantinya semua orang akan sampai pada batas umurnya, cepat atau lambat. Dan semua itu adalah misteri sepanjang umur manusia. Maka kita yang harus mempersiapkan bekal kematian.
Teman saya yang rajin sholat berjama’ah di masjidil haram, dan melalu memilih posisi dimana nanti bisa menyaksikan jenazah yang dibawa keluar masuk untuk disholatkan, kadang berpamitan begini :
“ Aku ke masjid ya, mau takziyah, melayat...”. Semoga beliau dapat pahala menunaikan hak sesama muslim.
Meninggal di tanah suci, konon adalah salah satu tujuan jamaah yang berangkat berhaji pada usia lanjut. Namun malaikat maut tidak pilih-pilih, jika ajal sudah ditentukan, berapapun usianya, dimanapun akan dijemput juga.
Sewaktu kami di Mina, sepulang dari wukuf di Arofah dan mabit di Muzdalifah, ada jamaah haji, wanita muda dari Makassar. Usianya belum ada 40 tahun, ia berangkat berhaji mendampingi ibunya yang telah berumur. Sepulang dari Muzdalifah, rombongann hajinya melempar jumrah pada lewat malam. Paginya thowaf ifadhoh dan sa’i. Siang beliau mengantar mandi ibundanya, saat itulah merasa pusing dan pamit istirahat ke tenda. Dititipkannya ibunya kepada jamaah lain yang juga mengantri. Beliau kembali ke kamar, berbaring, pakai minyak angin, dan tak lama kemudian meninggal dunia.
Mudah sekali.
Semua meneteskan air mata mendengar kisahnya. Haru, bahagia dan juga sedih. Haru karena peristiwa itu begitu mengejutkan dan terjadi di depan mata. Bahagia karena insya Allah ybs khusnul khatimah, lantaran selesai melaksanakan prosesi haji. Insya Allah telah diampuni dosa-dosanya. Ia tengah menjadi anak sholihah, melakukan birrul walidain. Semoga syurga wajib untuknya.
Sedih, karena menyaksikan  Ibunya menjadi bingung atas kematian anaknya. Anak yang mendampingi dan melayaninya selama berhaji.
Begitulah malaikat maut tidak pilih tempat ataupun usia.
Saat berjamaah sholat maghrib di masjid nabawi, dari arah shoft belakang, ada sedikit keributan. Ternyata seorang jamaah meninggal saat melaksanakan sholat maghrib. Subhanallah.
Dalam do’aku saat di Roudhah, jika  Allah mengizinkan, aku ingin dicabut nyawaku saat bersujud di masjid Nabawi.  Namun jika tidak, saat aku sujud sholat dimanapun tempatnya. Jika tidak, yang penting saat aku melakukan ketaatan, apapun bentuknya. Apakah saat aku sholat, tilawah al-Qur’an, berbakti pada ortu, berdzikir , ceramah, berdakwah...amin.
Ablah Tsurayya menceritakan, suatu hari ada jamaah yang meninggal di masjid Nabawi. Saat disucikan, digosok giginya dengan kapas, muncul bau yang sangat harum dari mulutnya. Petugas meminta izin pada ahli warisnya untuk menyimpan kapas yang telah dipakai untuk membersihkan gigi dan justru berbau harum tersebut. Oleh keluarganya diijinkan. Ternyata kapas itu masih saja berbau wangi sampai beberapa hari kemudian.
Mereka bertanya amalan apa yang kira-kira menyebabkan ibu tersebut mengeluarkan bau wangi dari mulutnya. Menurut keluarganya, almarhumah banyak mengucapkan dzikir : “ Subhanallah, wal hamdulillah, walaailaha illallah wallahu akbar....”
Subhanallah !
Tentang sholat jenazah, kadang ada yang keliru cara melaksanakannya. Penjelasan ini kami  dapat dari Ablah Tsurayya, karena beliau sering mengamati, banyak jamaah dari Indonesia yang sholat jenazah di masjid Nabawi.
Sholat jenazah dimulai dengan takbiratul ihram, lalu membaca surat Al-Fatihah. Takbir kedua, kemudian membaca sholawat atas nabi. Takbir ketiga lalu membaca doa untuk jenazah. Takbir keempat kemudian salam. Tanpa ruku’, tanpa sujud dan salam hanya satu kali, ke kanan saja, tanpa ke kiri. Di Indonesia biasanya kita melakukan salam dua kali.

Bagi jama’ah yang pernah mengikuti ceramah dan arahan Ablah Tsurayya saat menanti giliran memasuki Roudhoh, tentu akan menyimak penjelasan ini dan mempraktekkannya. Itu bagi yang  memperhatikan ceramahnya.

 

.......DI AMBIL DARI CATATAN PERJALANAN HAJI USTADZAH IDA NUR LAILA.......

lebih lengkap baca: http://ida-nurlaila.blogspot.com

Posted in kisah dan hikmah